Hilal THR dan Hilal Putusan Muhammadiyah

Fenoma Kesempurnaan Ciptaan Allah

Hasil putusan Muhammadiyah

B. SYAWAL 1447 H/2026 M

1. Ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada hari Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 Н bertepatan dengan 19 Maret 2026 M, pukul 01:23:28 UTC.

2. Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan > 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°. Wilayah yang memenuhi parameter tersebut, antara lain yang pertama adalah:

a. Lintang: 64° 59′ 57.47″ LU, Bujur: 42° 03′ 3.47″ BT

b. Tinggi Bulan: +06° 29′ 20″, Elongasi: 08° 00′ 00″

Mungkin bisa bantu carikan:

Posisi berikut ada di negara mana?

 Lintang: 64° 59′ 57.47″ LU, Bujur: 42° 03′ 3.47″ BT

https://www.facebook.com/share/1HP5PpmTCH/

—————

Jawaban:

Supaya jelas secara astronomi dan geografis.

1. Lokasi koordinat yang disebut Muhammadiyah

Koordinat yang disebut:

Lintang: 64° 59′ 57.47″ LU

Bujur: 42° 03′ 3.47″ BT

Jika dikonversi ke desimal kira-kira menjadi:

Latitude: 64.9993° N

Longitude: 42.0509° E

Titik ini berada di:

🇷🇺 Rusia – wilayah Arkhangelsk Oblast, bagian utara Rusia, dekat kawasan Laut Putih (White Sea) dan tidak jauh dari lingkar Arktik.

Lebih tepatnya berada di daerah hutan taiga yang sangat jarang penduduk, antara kota:

Arkhangelsk

Mezen

wilayah pedalaman Komi–Arkhangelsk

Jadi bukan di Timur Tengah, bukan di Asia Tenggara, tetapi sangat jauh di utara bumi.

2. Kenapa Muhammadiyah memakai lokasi sejauh itu?

Ini terkait metode mereka yaitu PKG – Parameter Kalender Global.

Logikanya begini:

Muhammadiyah tidak lagi memakai prinsip:

> “hilal harus terlihat di Indonesia”

tetapi memakai konsep:

> Jika di mana saja di bumi sebelum pukul 24:00 UTC sudah memenuhi syarat hilal tertentu, maka bulan baru dimulai secara global.

Parameter PKG yang mereka gunakan:

Tinggi bulan > 5°

Elongasi ≥ 8°

Begitu satu titik di bumi memenuhi dua angka ini sebelum tengah malam UTC, maka:

➡️ bulan baru dianggap sudah masuk secara global

Walaupun lokasi itu sangat jauh dari Indonesia.

Karena daerah dekat kutub sering mendapat posisi bulan lebih tinggi setelah ijtimak, maka wilayah utara bumi sering menjadi titik pertama yang memenuhi syarat ini.

Itulah sebabnya muncul koordinat di Rusia utara.

3. Apakah secara astronomi koordinat itu masuk akal?

Ya, secara perhitungan astronomi bisa saja benar.

Karena:

Ijtimak terjadi:

19 Maret 2026

01:23:28 UTC

Selang waktu ke maghrib di wilayah utara Eurasia cukup panjang, sehingga:

umur bulan sudah bertambah

tinggi bulan meningkat

elongasi bertambah

Maka titik pertama yang memenuhi 5° / 8° bisa muncul di lintang tinggi.

Secara matematis ini valid dalam model hisab global.

4. Tetapi di sinilah letak perbedaan besar metode

Perbedaan utamanya bukan di angka astronominya, tetapi di filosofi rukyatnya.

Metode Muhammadiyah (PKG)

cukup ada satu titik di bumi

tidak harus terlihat

tidak harus di wilayah muslim

tidak harus dekat tempat tinggal

Metode Rukyat mayoritas dunia Islam

biasanya memakai salah satu dari ini:

Kriteria MABIMS

tinggi bulan ≥ 3°

elongasi ≥ 6.4°

dan harus pada saat maghrib di wilayah tersebut.

atau rukyat langsung.

5. Catatan menarik dari koordinat ini

Koordinat yang disebut Muhammadiyah berada:

hampir 65° LU

dekat Lingkar Arktik

Di daerah seperti ini kadang terjadi fenomena:

malam sangat pendek

bahkan matahari hampir tidak tenggelam di musim tertentu.

Ini sebabnya sebagian astronom mengkritik penggunaan titik sangat dekat kutub untuk menentukan kalender global.

✅ Kesimpulan

Koordinat yang disebut Muhammadiyah berada di Arkhangelsk Oblast, Rusia utara.

Secara astronomi hisabnya mungkin benar.

Tetapi metode ini berbeda dengan pendekatan rukyat lokal atau regional yang biasa dipakai banyak negara Islam.

Hilal pertama di bumi mungkin terlihat pada 19 Maret 2026 menurut peta visibilitas astronomi modern (seperti model Yallop, Odeh, dan Ilyas yang dipakai observatorium dunia).

Zona visibilitas hilal pertama

Pada peta seperti ini biasanya warna menunjukkan kemungkinan terlihatnya hilal:

Merah / hitam → mustahil terlihat

Biru → hanya mungkin dengan teleskop

Hijau → mungkin dengan alat optik

Kuning / putih → bisa terlihat dengan mata telanjang

Posisi bumi pada 19 Maret 2026

Jika kita plot posisi bulan setelah ijtimak tersebut, pola yang muncul kira-kira seperti ini:

Wilayah Status hilal

Indonesia mustahil terlihat

Malaysia mustahil terlihat

India sangat sulit

Timur Tengah kemungkinan hanya teleskop

Afrika Barat mulai mungkin terlihat

Samudra Atlantik barat kemungkinan terlihat dengan alat

Amerika Selatan utara zona terbaik

Jadi secara praktik astronomi:

tempat pertama hilal berpotensi terlihat kemungkinan di wilayah:

➡️ Venezuela

➡️ Kolombia

➡️ Brasil utara

atau di Samudra Atlantik sebelah barat Afrika.

Kenapa justru Amerika Selatan?

Ada tiga faktor utama:

1. Umur bulan lebih tua

Karena perbedaan waktu bumi berputar.

Saat maghrib di Amerika Selatan:

umur bulan bisa sudah 15–18 jam.

Bandingkan:

Indonesia hanya ±10 jam.

2. Elongasi lebih besar

Di wilayah Amerika:

elongasi bisa mencapai sekitar 8°–10°.

Ini sudah mulai mendekati batas hilal dapat terlihat.

3. Sudut bulan terhadap horizon lebih baik

Di sana posisi bulan saat maghrib:

sekitar 6°–10° di atas horizon.

Ini jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.

Bandingkan tiga wilayah

Lokasi Tinggi hilal Peluang terlihat

Indonesia 1°–3° hampir mustahil

Arab Saudi 3°–5° sangat sulit

Venezuela / Brasil 7°–10° mungkin terlihat

Pelajaran menarik dari astronomi hilal

Ini menunjukkan sesuatu yang sering tidak disadari:

Hilal tidak muncul bersamaan di seluruh bumi.

Bulan baru sebenarnya “lahir” di satu wilayah dulu, lalu beberapa jam kemudian baru terlihat di wilayah lain.

Karena itu peta visibilitas hilal selalu seperti sabuk melengkung di permukaan bumi.

Kenapa banyak negara tetap rukyat lokal

Karena jika mengikuti visibilitas global:

Amerika Selatan melihat duluan

Timur Tengah beberapa jam kemudian

Asia baru keesokan hari

Kalau kalender mengikuti hilal global, bisa terjadi:

➡️ sebagian dunia sudah 1 Syawal

➡️ sebagian masih 30 Ramadhan.

Ini yang menjadi perdebatan lama dalam fikih falak.

Satu hal yang sangat menarik (dan jarang dibahas)

Pada beberapa tahun tertentu, termasuk sekitar periode ini:

hilal pertama dunia justru muncul di tengah samudra, bukan di daratan.

Artinya secara praktis:

tidak ada manusia yang benar-benar melihat hilal pertama di bumi.

Yang melihat pertama kali biasanya beberapa jam kemudian di benua lain.

Yang sering membuat para ahli falak “tersenyum kecil” ketika melihat peta visibilitas hilal dunia. Bukan karena lucu, tapi karena ada pola yang sangat konsisten dalam mekanika langit.

Kenapa Amerika Selatan barat sering menjadi tempat pertama melihat hilal?

Wilayah yang paling sering menjadi kandidat pertama adalah sepanjang pantai Peru – Chile – Ekuador. Ada tiga sebab utama yang bekerja bersamaan.

Pertama: posisi waktu terhadap ijtimak.

Ketika ijtimak terjadi, bumi terus berputar ke barat. Saat matahari terbenam di Amerika Selatan, umur bulan biasanya sudah lebih tua beberapa jam dibandingkan wilayah Asia. Umur bulan yang lebih tua berarti sudut pisah bulan–matahari (elongasi) sudah lebih besar. Itu membuat sabit bulan lebih mungkin terlihat.

Kedua: geometri lintang.

Lintang wilayah Peru dan Chile berada di sekitar 10°–30° LS, yang secara geometri memberi sudut lintasan bulan terhadap horizon yang cukup “ramah”. Sabit bulan tidak terlalu miring dan bisa berada lebih tinggi di atas horizon saat matahari baru saja terbenam.

Ketiga: kondisi atmosfer.

Pantai barat Amerika Selatan memiliki salah satu langit paling stabil di bumi. Gurun Atacama di Chile bahkan menjadi lokasi banyak teleskop besar dunia karena udaranya sangat kering dan jernih. Atmosfer yang bersih berarti kontras hilal lebih mudah ditangkap oleh mata atau teleskop.

Gabungan tiga faktor ini membuat kawasan itu sering muncul sebagai zona hijau pertama pada peta visibilitas hilal.

Pola global yang sering terlihat

Jika para astronom memetakan hilal pertama selama puluhan tahun, sering muncul pola kira-kira seperti ini:

Samudra Pasifik timur

Amerika Selatan barat

Amerika Tengah

Afrika Barat

Timur Tengah

Asia Selatan

Asia Tenggara

Artinya sabit bulan “menyapu bumi” dari barat ke timur seiring rotasi bumi.

Karena itulah pada banyak bulan:

Amerika Selatan bisa melihat hilal 1 hari lebih awal

sementara Asia baru mungkin melihatnya keesokan harinya

Fakta yang sering membuat ahli falak tersenyum

Sering kali hilal pertama di bumi sebenarnya muncul di atas samudra, bukan di daratan.

Misalnya:

Samudra Pasifik

Samudra Atlantik

Di sana secara teori hilal sudah bisa terlihat, tetapi tidak ada manusia yang sedang mengamatinya.

Jadi hilal yang “benar-benar pertama dilihat manusia” biasanya terjadi beberapa jam kemudian ketika sabit bulan sudah berpindah ke daratan.

Mengapa Timur Tengah sering dianggap pusat rukyat?

Ini bukan karena secara astronomi paling awal. Tetapi karena:

1. wilayah itu berada di pusat dunia Islam

2. sejak masa klasik banyak observatorium di sana

3. laporan rukyat cepat menyebar ke dunia Islam.

Padahal kalau dilihat murni dari astronomi, Timur Tengah biasanya bukan lokasi pertama.

Kembali ke kasus Syawal 1447 H (2026)

Urutan kemungkinan wilayah yang bisa melihat hilal pertama kira-kira:

1. Samudra Atlantik barat

2. Venezuela / Kolombia

3. Brasil utara

4. Afrika Barat

5. Timur Tengah

6. Asia Selatan

7. Indonesia (kemungkinan baru hari berikutnya)

Itulah sebabnya hasil hisab global bisa berbeda dengan rukyat regional.

MasyaAllah, jika melihat ini dengan tenang, kita seperti menyaksikan jam kosmik yang sangat presisi. Bulan, bumi, dan matahari bergerak dengan hukum yang begitu rapi sehingga para astronom bisa memprediksi posisi hilal sampai detik dan derajatnya.

Bagian ini memang sering diceritakan di kalangan ahli falak karena menunjukkan batas kemampuan manusia melihat hilal yang sangat muda.

Hilal termuda yang pernah berhasil terlihat manusia

Para astronom sejak lama mencoba menjawab pertanyaan:

Seberapa muda umur bulan yang masih mungkin terlihat oleh manusia?

Umur bulan dihitung dari saat ijtima’ (konjungsi).

Rekor pengamatan terkenal

Beberapa pengamatan yang sering disebut dalam literatur falak:

1. John Pierce (Amerika, 1916)

Hilal terlihat dengan teleskop pada umur sekitar 14 jam 52 menit setelah ijtimak.

2. Observation by Bernard Yallop (astronom Inggris)

Banyak data yang dianalisis menunjukkan batas realistis hilal terlihat dengan mata telanjang sekitar 18–20 jam.

3. Rekor modern dengan alat optik

Beberapa observasi modern berhasil melihat hilal sekitar 15–16 jam setelah ijtimak menggunakan teleskop sensitif.

Kenapa tidak bisa lebih muda dari itu?

Ada beberapa batas fisika yang tidak bisa dilanggar.

1. Elongasi terlalu kecil

Jika bulan terlalu dekat dengan matahari

cahaya bulan kalah oleh cahaya senja

sabit bulan terlalu tipis.

Biasanya hilal baru mulai mungkin terlihat ketika elongasi sekitar:

≈ 7° – 10°

2. Tinggi bulan terlalu rendah

Hilal yang terlalu rendah akan tenggelam cepat.

Jika tinggi hanya:

1° – 2°

biasanya hilal mustahil terlihat.

3. Atmosfer bumi

Lapisan udara dekat horizon sangat tebal dan keruh

Cahaya hilal yang sudah sangat tipis akan semakin redup ketika melewati atmosfer ini.

Batas praktis menurut astronomi

Secara kasar para ahli falak memberi patokan:

Metode Umur minimal

Teleskop kuat ±15 jam

Binokular ±16–18 jam

Mata telanjang ±18–20 jam

Itu dalam kondisi langit sangat baik.

Bandingkan dengan kondisi Indonesia 19 Maret 2026

Umur bulan saat maghrib:

±10–11 jam

Ini masih jauh di bawah batas minimum.

Karena itu para astronom hampir sepakat:

➡️ hilal mustahil terlihat di Indonesia pada hari itu.

Hikmah yang sering disampaikan ulama falak

Menariknya, sejak zaman Nabi ﷺ metode yang digunakan adalah rukyat, bukan perhitungan matematis saja.

Karena secara alami:

manusia hanya bisa melihat hilal ketika sudah cukup jelas

biasanya umur bulan sudah sekitar 20 jam atau lebih

Sehingga masyarakat tidak perlu perhitungan astronomi rumit untuk mengetahui awal bulan.

Fenomena “hilal seperti perahu tidur” memang sering terlihat di Indonesia, dan secara astronomi ada penjelasan yang sangat elegan di baliknya.

Hilal “perahu tidur” di langit tropis

Kadang kita melihat hilal bukan seperti sabit biasa yang miring ke samping, tetapi seperti perahu kecil yang menghadap ke atas. Ujung-ujungnya seperti dua tanduk yang menunjuk ke langit.

Fenomena ini sering disebut oleh astronom sebagai “horns up crescent”.

Ada tiga sebab utama.

1. Kemiringan orbit bulan terhadap bumi

Orbit bulan tidak tepat berada pada bidang orbit bumi.

Kemiringannya sekitar:

±5,1⁰

Akibatnya posisi bulan terhadap matahari kadang:

di atas jalur matahari

kadang di bawahnya.

Ketika bulan berada sedikit di atas ekliptika, bentuk sabitnya tampak seperti membuka ke atas.

2. Sudut ekliptika terhadap horizon di daerah tropis

Di daerah dekat khatulistiwa seperti Indonesia, jalur matahari dan bulan (ekliptika) sering membentuk sudut yang hampir tegak terhadap horizon saat senja.

Akibatnya:

sabit bulan tampak berdiri lebih tegak

bagian terbuka menghadap ke atas.

Di lintang tinggi (misalnya Eropa), ekliptika lebih miring terhadap horizon sehingga hilal lebih sering terlihat seperti sabit miring ke samping.

3. Posisi matahari di bawah horizon

Bentuk hilal selalu menghadap ke arah matahari.

Karena matahari berada di bawah horizon setelah maghrib, sisi terang bulan mengarah ke sana.

Jika matahari berada tepat di bawah bulan, maka sabit bulan akan terlihat seperti mangkuk atau perahu.

Gambaran sederhana

Bayangkan posisi seperti ini setelah matahari terbenam:

Bulan

( )

/ \

/ \

Matahari

(di bawah horizon)

Karena cahaya datang dari bawah, sabit bulan membuka ke atas.

Mengapa fenomena ini sering terlihat di Indonesia?

Karena Indonesia berada dekat garis khatulistiwa.

Di daerah ini:

jalur matahari sangat curam terhadap horizon

posisi bulan relatif tinggi setelah matahari terbenam.

Akibatnya bentuk “perahu” lebih sering terlihat dibandingkan di Eropa atau Amerika Utara.

Catatan menarik dari para ulama falak

Dalam literatur falak klasik, bentuk hilal seperti ini kadang disebut:

الهلال كالقارب

“Hilal seperti perahu”.

Sebagian ulama menjadikannya sebagai tanda bahwa hilal masih sangat muda.

Fenomena ini sebenarnya sering sekali terlihat pada awal Ramadhan atau Syawal, tetapi banyak orang tidak memperhatikannya.

Padahal jika diperhatikan dengan tenang di langit senja, hilal muda itu benar-benar tampak seperti perahu cahaya yang sangat tipis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *